Pages

Jumat, 04 Mei 2012

MAKALAH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL



PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL / CTL
(CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)










 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Ketika kita membicarakan tentang pendidikan, kita merasa bahwa kita sedang membicarakan permasalahan yang kompleks dan sangat luas. Mulai dari masalah peserta didik, pendidik/guru, manajemen pendidikan, kurikulum, fasilitas, proses belajar mengajar, dan lain sebagainya. Salah satu masalah yang banyak dihadapi dalam dunia pendidikan kita adalah lemahnya kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan guru di sekolah. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas hanya diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya banyak peserta didik yang ketika lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikasi.
Dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Sisdiknas, 2003).
Sesuai fungsi pendidikan nasional tersebut terletak juga tanggung jawab guru untuk mampu mewujudkannya melalui pelaksanaan proses pembelajaran yang mampu bermutu dan berkualitas. Salah satu strategi yang dapat dipergunakan guru untuk memperbaiki mutu dan kualitas proses pembelajaran adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL).


BAB II
PEMBAHASAN

2.1        Pengertian CTL (Contextual Teaching and Learning)
Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti “hubungan, konteks, suasana dan keadaan (konteks)”. (KUBI, 2002 : 519). Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah :
¨         Sanjaya (2005), suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka.
¨         Sukmadinata (2004), suatu sistem atau pendekatan pembelajaran yang bersifat holistik, terdiri dari komponen yang saling terkait, apabila dilaksanakan masing-masing memberikan dampak sesuai dengan peranannya.
¨         Menurut Depdiknas (2003 : 5), konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan dalam kehidupan mereka sehari-hari.”
¨         Secara umum, Contextual mengandung arti yang berkenan, relevan, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti konteks, yang membawa maksud, makna, dan kepentingan.

2.2        Pengertian Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. (http://www.papantulisku.com/2010/01/pembelajaran-kontekstual-contextual.html)

2.3        Komponen-komponen CTL (Contextual Teaching and Learning)
Komponen-komponen dari CTL (Contextual Teaching and Learning) antara lain :
1.        Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme (Constructivism) adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut pengembang filsafat konstruktivisme Mark Baldawin dan diperdalam oleh Jean Piaget menganggap bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan hannya dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya.
2.        Menemukan (Inquiry)
Menemukan (Inquiry) adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencapaian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dalam model inquiry dapat dilakukan melalui beberapa langkah sistematis, yaitu :
a.         Merumuskan masalah.
b.         Mengajukan hipotesis.
c.         Mengumpulkan data.
d.        Menguji hipotesis berdasarkan data yang dikumpulkan.
e.         Membuat kesimpulan.
3.        Bertanya (Quesrioning)
Belajar pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingin tahuan setiap individu. Sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir.

Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :
a.         Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran.
b.         Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar.
c.         Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu.
d.        Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang diinginkan.
e.         Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sendiri.
f.          Menggali pemahaman siswa.
4.        Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar (Learning Community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain. Kerja sama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, antarteman atau antarkelompok; yang sudah tahu memberi tahu kepada yang belum tahu atau yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya kepada orang lain. Inilah hakekat dari masyarakat belajar yaitu masyarakat yang saling membagi.
5.        Pemodelan (Modeling)
Yang dimaksud dengan asas modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Proses modeling tidak sebatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran CTL sebab melalui modeling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoristis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme.
6.        Refleksi (Reflection)
Refleksi (Reflection) adalah cara berpikir tentang apa yang baru di pelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang baru di terima. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya.
7.        Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
Penilaian nyata (Authentic Assessment) adalah proses yang dilakukan oleh guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan oleh siswa. Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak; apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa. Penilaian yang autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus-menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada proses belajar bukan kepada hasil belajar.

2.4        Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Dalam pembelajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerja sama (cooperating) dan mentransfer (transferring).
1.        Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketika mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
2.        Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengalaman maupun pengetahuan sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3.        Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapat memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistik dan relevan.
4.        Kerja sama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang kompleks dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerja sama tidak hanya membantu siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
5.        Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan fokus pada pemahaman bukan hafalan.

2.5        Penerapan dan Pendekatan Kontekstual
Hal-hal yang diperlukan untuk mencapai sejumlah hasil yang diharapkan dalam penerapan pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut :
1.        Guru yang berwawasan
Maksudnya yaitu guru yang berwawasan dalam penerapan dan pendekatan.
2.        Materi dalam pembelajaran
Dalam hal ini guru harus bisa mencari materi pembelajaran yang dijiwai oleh konteks perlu disusun agar bermakna bagi siswa.
3.        Strategi metode dan teknik belajar dan mengajar
Dalam hal ini adalah bagaimana seorang guru membuat siswa bersemangat belajar, yang lebih konkret, yang menggunakan realitas, lebih aktual, nyata/riil, dsb.
4.        Media pendidikan
Media yang digunakan dapat berupa situasi alamiah, benda nyata, alat peraga, film nyata yang mana perlu dipilih dan dirancang agar sesuai dan belajar lebih bermakna.
5.        Fasilitas
Media pendukung pembelajaran kontekstual seperti peralatan dan perlengkapan, laboratorium, tempat praktek, dan tempat untuk melakukan pelatihan perlu disediakan.
6.        Proses belajar dan mengajar
Hal ini ditujukan oleh perilaku guru dan siswa yang bernuansa pembelajaran kontekstual yang merupakan inti dari pembelajaran kontekstual.
7.        Kancah pembelajaran
Hal ini perlu dipilih sesuai dengan hasil yang diinginkan.
8.        Penilaian
Penilaian/evaluasi otentik perlu diupayakan karena pada pembelajaran ini menuntut pengukuran prestasi belajar siswa dengan cara-cara yang tepat dan variatif, tidak hanya dengan pensil atau paper test.
9.        Suasana
Suasana dalam lingkungan pembelajaran kontekstual sangat berpengaruh karena dapat mendekatkan situasi kehidupan sekolah dengan kehidupan nyata di lingkungan siswa.

2.6        Tahapan-tahapan Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual
Tahapan pelaksanaan pembelajaran kontekstual antara lain :
1.        Mengkaji materi pelajaran yang akan diajarkan.
2.        Mengkaji konteks kehidupan siswa sehari-hari.
3.        Memilih materi pelajaran yang dapat dikaitkan dengan kehidupan siswa.
4.        Menyusun persiapan proses KBM yang telah memasukkan konteks dengan materi pelajaran.
5.        Melaksanakan proses belajar mengajar kontekstual.
6.        Melakukan penilaian otentik terhadap apa yang telah dipelajari siswa.






2.7        Prinsip-prinsip Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran Kontekstual atau CTL juga mempunyai beberapa prinsip utama dalam penerapan dan aplikasinya antara lain :
  1. Saling ketergantungan
  2. Diferensiasi
  3. Pengaturan Diri

2.8        Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual
Esensi pembelajaran kontekstual adalah membantu siswa mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan konteks kehidupan atau situasi nyata mereka sehari-hari. Dengan pendekatan ini diharapkan proses belajar mengajar akan lebih konkret, realistis, dan lebih bermakna. Dalam pelaksanaan pembelajaran kontekstual ini diperlukan tahapan-tahapan yang perlu dipersiapkan secara matang.

2.9        Perbedaan antara Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional
Ø  Kontekstual
1.        Menyandarkan pada pemahaman makna.
2.        Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa.
3.        Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
4.        Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan.
5.        Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa.
6.        Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang.
7.        Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok).
8.        Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
9.        Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman.
10.    Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri yang bersifat subyektif.
11.    Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut merugikan.
12.    Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik.
13.    Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks, dan setting.
14.    Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik.
Ø  Tradisional
1.        Menyandarkan pada hafalan.
2.        Pemilihan informasi lebih banyak ditentukan oleh guru.
3.        Siswa secara pasif menerima informasi, khususnya dari guru.
4.        Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis, tidak bersandar pada realitas kehidupan.
5.        Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan.
6.        Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu.
7.        Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas, mendengar ceramah, dan mengisi latihan (kerja individual).
8.        Perilaku dibangun atas kebiasaan.
9.        Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan.
10.    Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor.
11.    Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman.
12.    Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik.
13.    Pembelajaran terjadi hanya terjadi di dalam ruangan kelas.
14.    Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.

BAB III
PENUTUP

3.1        Kesimpulan
Strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi nyata sehingga mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka. CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata. Kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan peserta didik di lapangan. Ada beberapa perbedaan antara strategi pembelajaran CTL dan konvensional yang membuktikan bahwa CTL lebih efektif dan mampu menjadi alternatif pilihan strategi pembelajaran yang diterapkan guru di sekolah. Diperlukan pola dan langkah pembelajaran CTL di kelas agar strategi CTL dapat diterapkan secara efektif dan sesuai materi pelajaran yang telah ditetapkan dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD).

3.2        Saran
Dengan pemahaman tentang Contextual Teaching and Learning (CTL) ini diharapkan semua guru mata pelajaran dapat menerapkan strategi ini dalam melaksanakan proses belajar mengajar (PBM) di sekolah dan dapat lebih meningkatkan kualitas maupun kuantitas penguasaan materi mata pelajaran siswa di sekolah dan pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sebagaimana tujuan dan fungsi pendidikan nasional.






DAFTAR RUJUKAN

Budiningsih, C. Asri, DR. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
http://gakuseishinsetsu.wordpress.com/2010/01/06/model-pembelajaran-konstektual/
//PDRTJS_settings_1036222_post_228={“id”:1036222,”unique_id”:”wp-post-228″,”title”:”Model Pembelajaran Konstektual”,”permalink”
http://www.papantulisku.com/2010/01/pembelajaran-kontekstual-contextual.html




Read More => Dateng Mriki →MAKALAH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Selasa, 01 Mei 2012

Number One For Me - Maher Zain

I was a foolish little child

Crazy things I used to do

And all the pain I put you through

Mama now I'm here for you

For all the times I made you cry

The days I told you lies

Now it's time for you to rise

For all the things you sacrificed



Chorus:

Oh, if I could turn back time rewind

If I could make it undone

I swear that I would

I would make it up to you

Mum I'm all grown up now

It's a brand new day

I'd like to put a smile on your face every day

Mum I'm all grown up now

And it's not too late

I'd like to put a smile on your face every day



And now I finally understand

Your famous line

About the day I'd face in time

'Cause now I've got a child of mine

And even though I was so bad

I've learned so much from you

Now I'm trying to do it too

Love my kid the way you do



CHORUS



You know you are the number one for me (x3)

Oh, oh, number one for me

There's no one in this world that can take your place

Oh, I'm sorry for ever taking you for granted, ooh

I will use every chance I get

To make you smile, whenever I'm around you

Now I will try to love you like you love me

Only God knows how much you mean to me
Read More => Dateng Mriki →Number One For Me - Maher Zain

Intip Sisi Postif dan Negatif Rokok


Rokok adalah benda beracun yang memberi efek santai dan sugesti merasa lebih jantan. Di balik kegunaan atau manfaat rokok yang secuil itu terkandung bahaya yang sangat besar bagi orang yang merokok maupun orang di sekitar perokok yang bukan perokok. Adapun bahaya tersebut antara lain:

1.      Asap rokok mengandung kurang lebih 4000 bahan kimia yang 200 diantaranya beracun dan 43 jenis lainnya dapat menyebabkan kanker bagi tubuh. Beberapa zat yang sangat berbahaya yaitu tar, nikotin, karbon monoksida, dsb.
2.      Asap rokok yang baru mati di asbak mengandung tiga kali lipat bahan pemicu kanker di udara dan 50 kali mengandung bahan pengeiritasi mata dan pernapasan. Semakin pendek rokok semakin tinggi kadar racun yang siap melayang ke udara. Suatu tempat yang dipenuhi polusi asap rokok adalah tempat yang lebih berbahaya daripada polusi di jalanan raya yang macet.
3.      Seseorang yang mencoba merokok biasanya akan ketagihan karena rokok bersifat candu yang sulit dilepaskan dalam kondisi apapun. Seorang perokok berat akan memilih merokok daripada makan jika uang yang dimilikinya terbatas. 



Tetapi menurut sebagian orang justru bermanfaat seperti berikut ini :


Keuntungan MEROKOK (Positif Effect )
Ada yang berpendapat bahwa seorang perokok tidak hanya mempunyai sisi negatif seperti ditulis diatas, tetapi perokok juga mempunyai sisi positif atau keuntungan. Hal ini merupakan kabar gembira bagi perokok lantaran mempunyai argumen yang kuat bahwa “tidak selamanya merokok berbahaya”.

Keuntungannya yaitu:
1.      Perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif, maka untuk mengurangi resiko tersebut aktiflah merokok.
2.      Menghindarkan dari perbuatan jahat karena tidak pernah ditemui orang yang membunuh, mencuri dan berkelahi sambil merokok… tapi mungkin aja habis membunuh baru merokok ataupun sebelum membunuh merokok dulu hhheee.
3.      Mengurangi resiko kematian: Dalam berita tidak pernah ditemui orang yang meninggal dalam posisi merokok.(kebalik yach? he..he..menambah resiko bwt yg bosan hidup).
4.      Berbuat amal kebaikan: Kalau ada orang yang mau pinjam korek api paling tidak sudah siap / tidak mengecewakan orang yang ingin meminjam..
5.      Baik untuk basa-basi / keakraban: Kalau ketemu orang misalnya di Halte CSW kita bisa tawarkan rokok. Kalau basa-basinya tawarkan uang kan nggak lucu.
6.      Memberikan lapangan kerja bagi buruh rokok, dokter, pedagang asongan dan perusahaan obat batuk.
7.      Bisa untuk alasan untuk tambah gaji karena ada post untuk rokok dan resiko baju berlubang kena api rokok.
8.      Bisa menambah suasana pedesaan / nature bagi ruangan ber AC dengan asapnya sehingga seolah-olah berkabut.
Read More => Dateng Mriki →Intip Sisi Postif dan Negatif Rokok

Intip Monumen Simpang Lima Gumul Kediri (SLG)

Hai Saudara-saudara, udah pada taukah mengenai wisata kota Kediri yang satu ini....
Nah ini dia Monumen Simpang Lima Gumul atau biasa disebut SLG (orang Kediri).


Monumen ini merupakan salah satu ikon baru dari kota Kediri lho...
Monumen ini terletak di persimpangan yang memiliki 5 arah jalan yaitu arah Selatan - Wates/Pesantren, Timur - Gurah,  Utara - Pagu,  arah Timur Laut - Pare, dan arah ke Barat - Kota Kediri. Tujuan awal dibangun Simpang Lima Gumul (SLG) adalah sebagai sentra ekonomi baru di Kabupaten Kediri. Sehingga diharapkan roda perekonomian Kediri makin maju dan dapat meningkatkan aset pendapatan kota Kediri.
Monumen ini mirip banget lho dengan monumen L’Arch de Triomphe Paris, soooo seakan-akan kita pergi ke Paris Saudara :D..
Orang Kediri menyebutnya Ka'bah Kediri Karena kalau lewat SLG harus muteri monumen dan tidak boleh berhenti ditepi klo nekad suara peluit sii petugas terdengar deeehhh. Tak heran jika muter SLG sering muter-muter terus karena kebablasan jalur belokannya. Selain itu, kalau mau masuk ke monumennya lewati lorong bawah tanah dulu lho Saudara, seruuuu banget terasa dimana gitu....
Pembangunan monumen ini diawali sejak tahun 2003. Penggagasnya adalah Bupati Kediri saat ini, Sutrisno. Monumen ini tepatnya berada di Desa Tugu Rejo, Kecamatan Ngasem. Ada yang bilang monumen ini terinspirasi dari “Jongko Jojoboyo” Raja Kediri abad XII yang ingin menyatukan lima wilayah di Kediri.
Cuci mata di SLG, seerruuu
 
Tangga lorong bawah tanah


Eeeiiitttttss..........Penasaran dengan monumen yang megah ini ?????
Monggo mampir dateng Kota Kediri panjenengan deleng Monumen "Simpang Lima Gumul".
Read More => Dateng Mriki →Intip Monumen Simpang Lima Gumul Kediri (SLG)
Free Blog Me Cursors at www.totallyfreecursors.com